Minggu, 01 November 2015

Sejarah Singkat SMP Negeri 10 Tarakan



SMP Negeri 10 Tarakan didirikan pada tanggal 07 Mei 2003 berdasarkan Surat Keputusan Walikota Tarakan Nomor : 425/HK-IV/144. SMP Negeri 10 Tarakan merupakan sekolah di wilayah Kalimantan Utara yang terletak di Kota Tarakan Kecamatan Tarakan Timur Kelurahan Pantai Amal. Kepala Sekolah yang pertama kali menjabat adalah Hery Murtiono, S.Pd dalam masa periode 2003 – 2008 dan dilanjutkan oleh Endah Saratiningsih, S.Pd untuk kepala sekolah kedua masa periode 2008 – 2011, kemudian dijabat kepala sekolah yang ketiga oleh Muji Haryo Kusumo, S.Pd dalam periode 2011 – 2013 dan kepala sekolah yang menjabat terakhirnya sampai dengan sekarang dijabat oleh Lamberi, S.Pd pada tahun 2014.

SMP Negeri 10 Tarakan memiliki  450 siswa terdiri dari 16 rombongan belajar dari SMP Negeri 10 Induk 13 Rombel dan SMP Negeri 10 Fillial Tanjung Pasir (sewa ruang kelas) atas 3 rombel dengan rincian kelas VII (Tujuh) terbagi 5 kelas, VIII (Delapan) terbagi 6 kelas, dan IX (Sembilan) terbagi 5 kelas yang masing-masingnya dibagi lagi pada Kelas Filial Tanjung Pasir dikelas VII (Tujuh) terbagi 1 kelas, VIII (Delapan) terbagi 1 kelas, dan IX (Sembilan) terbagi 1 kelas yang diambil dari jumlah keseluruhan pada sekolah induk SMP Negeri 10 Tarakan. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada pagi hari, masuk pukul 07:30 wite sampai dengan 12:30 wite. Jumlah tenaga pendidik di SMP Negeri 10 Tarakan sebanyak 23 orang, terdiri dari 20 orang berstatus pegawai negeri sipil dan 3 orang berstatus pegawai honorer. Jumlah tenaga kependidikan sebanyak 12 orang, terdiri dari 2 orang berstatus pegawai negeri sipil dan 10 orang berstatus pegawai honorer dengan jumlah keseluruhan PTK sebanyak 35 orang.

SMP Negeri 10 Tarakan menempati sebidang tanah dengan luas 19643 m2, jumlah ruang belajar 10 ruang, 1 ruang laboratorium IPA, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang kepala sekolah yang langsung jadi satu dengan ruang TU, 1 ruang guru, 1 ruang OSIS, 1 ruang koperasi  dan 3 petak kantin sekolah. Sekolah ini terletak di jalan Amal Lama RT. 4 Kelurahan Pantai Amal Kecamatan Tarakan Timur Kota Tarakan Provinsi  Kalimantan Utara.  
Siswa yang belajar di SMP Negeri 10 Tarakan 80 % berasal dari daerah sekitar yaitu Kelurahan Pantai Amal dan 20 % berasal dari luar. Hal ini mengakibatkan kondisi sosial ekonomi, politik, keamanan, kemajuan IPTEK dan budaya masyarakat sekitar secara tidak langsung mempengaruhi kemajuan pendidikan di SMP Negeri 10 Tarakan. Secara terperinci analisis kondisi eksternal pendidikan SMP Negeri 10 Tarakan akan dijelaskan sebagai berikut :
1)      Sosial ekonomi
Kondisi sosial ekonomi orang tua siswa SMP Negeri 10 Tarakan 80 % adalah nelayan, 10 % adalah Petani ( petani sayur, petani kebun, dan petani tambak), 10% adalah Pedagang, Buruh, Pegawai, dan lain-lain.  Pada dasarnya kondisi sosial ekonomi orang tua siswa sebagian besar menengah ke bawah dan rata-rata siswa hanya bersekolah sampai SMA/SMK yang sederajat dan kurang memiliki ketrampilan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.   
                    
2)      Politik
Kondisi politik dalam artian kebijakan pemerintah kota dalam peningkatan mutu pendidikan di Kota Tarakan sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan sekolah-sekolah secara bertahap minimal berlantai 2 mulai dari SD sampai SMA, selain itu sering dilaksanakan workshop atau seminar untuk peningkatan kompetensi guru dengan mengundang pakar-pakar pendidikan dari luar Tarakan dan memberi beasiswa bagi guru yang melaksanakan pendidikan.

3)      Keamanan

Kondisi keamanan kota Tarakan pada umumnya dan kondisi keamanan SMP Negeri 10 Tarakan pada khususnya relatif aman dan kondusif. Masyarakat sekitar sekolah turut berpartisipasi menjaga keamanan fasilitas sekolah maupun keamanan kegiatan sekolah.

4)      Kemajuan IPTEK
Kemajuan IPTEK untuk masyarakat sekitar sekolah kurang berkembang dikarenakan sebagian besar masyarakat adalah pengguna alat–alat hasil kemajuan IPTEK dan bukan masyarakat yang kreatif menciptakan sebuah teknologi walaupun hanya teknologi sederhana.
Persiapan masyarakat dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas kurang terutama penggunaan bahasa internasional yaitu bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

5)      Budaya

Perkembangan budaya khususnya seni budaya didominasi suku Bugis. Rasa kesukuan pada masyarakat masih tampak terasa namun pembauran tidak menimbulkan masalah.

0 komentar:

Posting Komentar