Minggu, 25 Oktober 2015

PEMBUATAN KOMPOS SKALA SEKOLAH

Kompos adalah salah satu jenis pupuk organik, terbuat dari sampah organik yang sebelumnya telah mengalami proses pelapukan.

Bila dibandingkan dengan pupuk anorganik (pupuk kimia), kandungan zat hara kompos lebih lengkap. Beberapa keunggulan kompos dibandingkan dengan pupuk kimia adalah sebagai berikut:


Kompos:


1. Mengandung unsur hara makro dan mikro yang lengkap, meski jumlahnya sedikit.
2. Mampu memperbaiki struktur tanah, sehingga tanah kembali gembur.
3. Meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang menguntungkan.
4. Meningkatkan daya simpan air.
5. Membuat tanaman cenderung lebih tahan terhadap hama penyakit.
6. Membuat pertumbuhan dan produktivitas tanaman tetap terjaga.


Pupuk Kimia:

1. Hanya mengandung satu atau beberapa zat hara, dalam jumlah banyak.
2. Tidak mampu memperbaiki struktur tanah. 
3. Membuat tanaman tidak tahan terhadap serangan penyakit.
4. Mudah menguap dan larut, sehingga penggunaan yang tidak tepat akan menjadi 
    sia-sia.


Kendati nyaris semua bahan organik dapat dimanfaatkan, namun ada beberapa diantaranya yang sebaiknya tidak digunakan dalam pengomposan. Karena bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan bau busuk dan mengundang bibit penyakit pes. Berikut ini beberapa bahan yang harus dihindari:

1. Daging, tulang dan duri ikan.
2. Produk yang terbuat dari susu.
3. Sisa makanan yang berlemak.
4. Kulit keras biji kenari, kulit telur, kulit kacang.
5. Arang, abu arang dan abu rokok.
6. Potongan tumbuhan yang tercemari bahan kimia atau terkena hama.
7. Rumput liar dengan biji yang telah matang. Jika akan memanfaatkannya, biji 
    rumput harus dimatikan terlebih dahulu dengan pemanasan. Bungkus bahan 
    tersebut dengan kantung sampah plastik berwarna hitam kemudian jemur 
    di bawah sinar matahari langsung selama 2-3 hari.

Ada 3 (tiga) cara membuat kompos yang bisa dilakukan dalam skala sekolah. 

Cara Pertama adalah Pembuatan Kompos Secara Alami Tanpa Menggunakan Aktivator


Bahan pembuatan kompos yang diperlukan adalah:

  • Sampah Organik Segar, seperti potongan sayuran, buah, daun-daunan. Nasi atau sayuran basi bisa juga digunakan dengan terlebih dahulu dibersihkan dari kuah, minyak atau santan. 
  • Sampah Organik Kering (daun-daunan kering)
  • Kompos yang sudah jadi
Perbandingan diantara ketiga bahan di atas adalah 1:1:1. Ketiga bahan diaduk merata dan diperciki air dengan tingkat kelembaban sekitar 30%. Simpanlah campuran bahan tersebut dalam suatu wadah tertutup yang memiliki lubang dibawahnya (komposter), lubang berfungsi sebagai ventilasi udara dan aliran lindi (air sampah). 


Tambahkanlah setiap hari dengan sampah yang ada, yang sebelumnya telah melalui pencampuran dan penambahan air seperti komposisi di atas. Jika kompos akan digunakan sebagai media tanam, tambahkanlah unsur tanah dalam tiap lapisannya.



Pembuatan kompos dengan cara pertama ini akan memakan waktu kurang lebih selama 2 (dua) bulan. Dalam proses nantinya kemungkinan akan muncul belatung dan bau, namun demikian bila terus dilanjutkan akan menjadi kompos yang baik, apalagi jika ditambahkan pula dengan kotoran ayam /burung /kambing /sapi dan bekatul. Kompos yang sudah jadi dengan sempurna akan berubah bentuk dan berwarna kehitaman.


Cara Kedua adalah Pembuatan Kompos Dengan Menggunakan Aktivator


Aktivator adalah bahan pemicu yang dapat mempercepat proses pembusukan dan dapat menghilangkan bau. Aktivator terdiri dari bakteri, jamur dan ragi. Aktivator yang digunakan dalam cara kedua ini adalah EM (Effective Microorganism) 4.

Bahan yang diperlukan untuk pembuatan kompos sama dengan pembuatan kompos cara pertama. Persiapkan terlebih dahulu larutan aktivator dengan komposisi: 1 (satu) liter air + 2 (dua) tutup botol EM 4 + 3 (tiga) sendok makan gula pasir/merah. Diamkan selama 1 (satu) malam. Campuran larutan aktivator dapat bertahan sampai dengan 3 (tiga) bulan.

Bahan baku kompos yang telah diaduk rata (lihat cara pertama di atas) diperciki dengan larutan aktivator dengan tingkat kelembaban 30% (fungsi air pada cara pertama diganti dengan larutan aktivator). Proses selanjutnya sama seperti membuat kompos cara pertama. Dapat pula ditambahkan dengan kotoran binatang. Pembuatan kompos dengan cara kedua ini memakan waktu kurang lebih 2 (dua) minggu.


Cara Ketiga adalah Pembuatan Kompos Dengan Menggunakan Cacing (lumbricus). 

Cacing dapat digunakan untuk mempercepat proses pengomposan. Metode ini dikenal dengan vermikomposting. Beberapa keuntungan penggunaan cacing dalam proses pengomposan adalah:
  1. Berlangsung secara aerobik, proses pengomposan tidak menimbulkan bau busuk seperti pengomposan pada umumnya.
  2. Waktu pengomposan menjadi lebih cepat
  3. Kotoran cacing yang dihasilkan dapat dijadikan pupuk organik karena mengandung unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman dan mudah diserap.
Bahan yang dapat digunakan untuk membuat kompos dengan bantuan cacing adalah bahan yang berserat tinggi seperti jerami,batang pisang sabut kelapa dan kertas. Setelah dipilih bahan tersebut diangin-anginkan selama 2-3 minggu selama proses tersebut pembalikan dan penyiraman bahan kompos dilakukan sebanyak 2 kali agar dicapai temperatur yang homogen dan tidak panas. 


Setelah itu bahan kompos diletakkan dalam kantong plastik. Setelah dimasukkan kedalam plastik, bahan kompos diberi cacing. Cacing dipelihara selama 6 minggu dengan memberikan pakan setiap 3 hari sekali. Pakan yang diberikan bisa berupa sayuran yang digiling atau kotoran ternak. 


Pemanenan dilakukan setelah seluruh bahan habis dimakan cacing dan tampak butiran kotoran cacing pada bahan. Pemanenan dapat dilakukan dengan menumpuk bahan seperti  gundukan. Dengan cara ini cacing akanberpindah ke dasar gundukan untuk menghindari panas matahari. Setelah dipanen produk yang dihasilkan dikeringkan kemudian diayak. Pengayakan dilakukan untuk memisahkan bahan yang terlalu besar serta mengambil cacing dan telur cacing. Cacing dapat dimasukan kedalam media baru atau  untuk pakan ternak/ikan yang dibudidayakan di sekolah.

Sekian dan terima kasih.

0 komentar:

Posting Komentar