Minggu, 01 November 2015

SMP NEGERI 10 TARAKAN - CARA MUDAH BELAJAR MEMBUAT KOMPOS



SMPN 10 Tarakan - Saat ini Pembina UKS dan siswa sedang asik-­asiknya mencoba membuat kompos. Sebab salah satu cara menanggulangi sampah adalah dengan membuat kompos. Dengan kompos kita akan mendukung tanaman secara organik, selain itu tanaman kita akan lebih subur tentunya. ada banyak cara membuat kompos, diantaranya cara­-cara berikut ini.































Ada beberapa alternatif cara yang dipilih sesuai kondisi lokal. Kompos jadi siap pakai Pada daerah yang banyak terdapat sampah kota dan desa yang telah mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang cukup lama di alam terbuka kita ambil contoh di SMP Negeri 10 Tarakan dengan banyaknya pohon otomatis dedaunan banyak berguguran dan biasa berubah menjadi tumpukan sampah, namun demikian pihak sekolah sudah menanggulangi dengan pembuatan kompos, dapat diterapkan cara ini, sebagai berikut: ­

-         - Gali tumpukan sampah (garbage atau sampah lapuk) yang sudah seperti tanah ­
-         - Pisahkan dari bahan-­bahan yang tidak dapat lapuk ­
-         - Jemur sampai kering, lalu ayak ­
-         - Bubuhkan 50 – 100 gram belerang untuk setiap 1 kg tanah sampah.

Bahan : ­

-         - 2 1 /4 hingga 4 m3 sampah lapuk (garbage) ­
-         - 6,5 m3 kulit buah kopi ­
-         - 750 kg kotoran ternak memamah biak (± 50 kaleng ukuran 20 liter) ­
-         - 30 kg abu dapur atau abu kayu

Cara Membuat :
1). Buatlah bak pengomposan dari bak semen. Dasar bak cekung dan melekuk di bagian tengahnya. Buat lubang pada salah satu sisi bak agar cairan yang dihasilkan dapat tertampung dan dimanfaatkan. Atau buatlah bak pengomposan dengan menggali tanah ukuran 2,5 x 1 x 1 m(panjang x lebar x tinggi). Tapi hasilnya kurang sempurna dan kompos yang dihasilkan berair dan lunak.
2). Aduk semua bahan menjadi satu kecuali abu. Masukkan ke dalam bak pengomposan setinggi 1 meter, tanpa dipadatkan supaya mikroorganisme aerob dapat berkembang dengan baik. Kemudian taburi bagian atas tumpukan bahan tadi dengan abu.
3). Untuk menandai apakah proses pengomposan berlangsung dengan balk, perhatikan suhu udara dalam campuran bahan. Pengomposan yang baik akan meningkatkan suhu dengan pesat selama 4 – 5 hari, lalu segera menurun lagi.
4). Tampunglah cairan yang keluar dari bak semen. Siram ke permukaan campuran bahan untuk meningkatkan kadar nitrogen dan mempercepat proses pengomposan.
5). 2 – 3 minggu kemudian, balik­balik bahan kompos setiap minggu. Setelah 2 – 3 bulan kompos sudah cukup matang.
6). Jemur kompos sebelum digunakan hingga kadar airnya kira­kira 50 ­60 % saja. Kalau di daerah kita tidak tersedia kulit buah kopi, cara ke II dapat diadaptasi dengan menggantikan kulit buah kopi dengan hijauan seperti Iamtoro atau lainnya


Kompos Sistem Bogor

Bahan : ­

-         Sampah mudah lapuk (garbage) ­
-         Jerami yang sudah bercampur dengan kotoran dan air kencing ternak. ­
-         Kotoran ternak memamah biak ­
-         Abu dapur atau abu kayu

Cara Membuat :
1). Timbuni campuran jerami dan sampah setinggi 25 cm di atas bedengan berukuran 2,5 x 2,5 meter.
2). Timbun lagi campuran kotoran dan air kencing ternak di atas timbunan tadi tipis­tipis dan merata.
3). Timbun lagi campuran jerami dan sampah­sampah setinggi 25 cm.
4). Tutup lagi dengan campuran kotoran dan kencing ternak.
5). Timbun bagian paling atas dengan abu sampai setebal ± 10 cm.
6). Balik­balik campuran bahan kompos setelah berlangsung 15 hari, 30 hari dan 60 hari.
7). Setelah di proses selama 3 bulan kompos biasanya cukup matang. Agar pengomposan berhasil, buatlah atap naungan di atas bedengan pengomposan sebab air hujan dan penyinaran langsung matahari dapat menggagalkan proses pengomposan.

Cara Membuat Kompos Metode Karung

Berikut ini adalah cara pengomposan, dengan menggunakan karung sebagai wadahnya :

Langkah 1:
Potong/cacah dengan ukuran 2 s/d 3 cm sampah organik yang akan dibuat kompos.
Langkah 2:
Campur sampah coklat dan sampah hijau dengan perbandingan 1:2. Jika terlalu banyak sampah coklat, pengomposan akan memakan waktu lama.
Langkah 3:
Ratakan sampah yang akan dibuat kompos sebelum dicampur dengan MOL.
Langkah 4:
Sirami permukaan sampah secara merata dengan MOL.
Langkah 5:
Aduk agar MOL tercampur merata. Siram kembali dengan MOL sampai sampah terlihat basah kemudian aduk kembali.
Langkah 6:
Masukkan sampah ke dalam karung, setelah diangin­anginkan sebentar. Kemudian karung diikat agar tidak diacak­acak kucing, anjing, atau ayam.
Langkah 7:
Karung ditusuk­tusuk dengan obeng atau alat lainnya secara merata agar oksigen (udara segar) bisa masuk.
Langkah 8:
Simpan di tempat yang tidak kehujanan dan tidak terkena sinar matahari langsung.
Langkah 9:
Seminggu sekali Langkah 3 s/d 8 diulang kembali. Dalam waktu enam minggu kompos sudah jadi dan siap digunakan.

Catatan:
Minggu ke­1 dan ke­2 mikroba mulai bekerja, suhu mencapai 45­65C.
Karung terasa hangat bila dipegang.
Minggu ke­3 dan ke­4 suhu mulai menurun menjadi sekitar 40C.
Minggu ke­5 dan ke­6 suhu kembali normal seperti suhu tanah, kompos sudah jadi/matang.
Kompos yang sudah jadi berwarna coklat kehitam­hitaman dan baunya seperti tanah. Kompos bisa disimpan di dalam karung sebelum digunakan.

Hal-­hal lain yang perlu diketahui:
Pertama, yang perlu diketahui adalah bahan baku utama membuat kompos, yaitu sampah itu sendiri. Ada dua jenis sampah yaitu organik dan anorganik. Kita harus memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Yang termasuk sampah organik dan bisa dijadikan bahan kompos adalah sampah coklat (daun kering, rumput kering, serbuk gergaji, serutan kayu, sekam, jerami, kulit jagung, kertas yang tidak mengkilat, tangkai sayuran) dan sampah hijau (sayuran, buah­buahan, potongan rumput segar, daun segar, sampah dapur, ampas teh/kopi, kulit telur, pupuk kandang). Sedangkan yang masuk kelompok sampah anorganik adalah plastik, stereoform, kertas (mengkilat), logam, dan kaca.

Selain itu ada bahan­-bahan yang sebaiknya tidak dibuat kompos yaitu: ­
Daging, ikan, kulit udang, tulang, susu, keju, lemak/minyak, ampas kelapa, sisa sayuran yang bersantan (menyebabkan munculnya belatung). ­ Kotoran anjing & kucing (kemungkinan membawa penyakit). Tanaman yang berhama (hama dan bijinya masih terkandung dalam kompos jadi). ­ Ranting, dahan, dan batang kayu yang tidak mudah hancur dalam kompos (mengundang rayap).

Kedua, starter yang digunakan untuk mengurai sampah menjadi kompos. Di toko pertanian sebenarnya dijual starter siap pakai seperti EM4 (effective microorganism 4), tapi barangkali anda akan lebih puas jika bisa membuat sendiri. Selain itu, hemat. Starter yang dijual di toko harganya berkisar Rp.15.000. Mungkin lebih, mungkin bisa kurang. Anda cek saja sendiri deh. Yang pasti, anda tidak akan keluar uang sepeserpun bila membuatnya sendiri. Starter buatan sendiri ini biasa disebut dengan MOL (mikro organisme lokal). Bahan yang digunakan untuk membuatnya bisa bermacam­macam, tergantung selera. Namun, di sini kami akan menjelaskan cara membuat MOL yang bahannya mudah didapat. Di rumah ada nasi kan? Kita biasa membuat MOL dari nasi, yang baru maupun basi.

Langkah-­langkah membuat MOL yang merupakan starter dalam pengomposan:
1. Nasi (baru maupun basi) dibentuk bulat sebesar bola ping­pong sebanyak 4 buah.
2. Diamkan selama tiga hari sampai keluar jamur yang berwarna kuning, jingga, dan abu­-abu.
3. Bola nasi jamuran kemudian dimasukkan ke dalam botol/wadah plastik.
4 Tuang air satu gayung yang sudah dicampur gula sebanyak empat sendok makan ke dalam botol/wadah yang berisi nasi jamuran.
5, Diamkan selama satu minggu. Campuran nasi dan air gula tersebut akan berbau asem seperti tape/peuyeum.

MOL sudah bisa digunakan sebagai starter untuk membuat kompos dengan dicampur air. Perbandingan MOL dengan air sebesar 1:5.

Ketiga, wadah untuk memproses sampah menjadi kompos. Wadah ini biasa disebut dengan komposter. Macam­-macam jenisnya, ada yang terbuat dari batako, gentong plastik, ada yang namanya keranjang takakura, bahkan bila mau bisa beli jadi yang harganya sampai ratusan ribu. Tapi sekali lagi, anda mungkin akan balik kanan bila mau bikin kompos saja kok repot amat. Apalagi selain repot, mahal lagi. Mending dibuang ke kali deh, beres urusannya. Nggak usahlah ikut­-ikutan birokrat hitam yang berprinsip “bila bisa dipersulit kenapa harus dipermudah.” Kita balik saja prinsip itu menjadi “bila dapat dipermudah kenapa mesti dibikin susah.” Kita gunakan karung sebagai tempat membuat kompos. Gampang kan? Di rumah atau di sekolah pasti anda punya karung. Jika tidak ada, minta tolong saja emak anda untuk beli beras yang 20 kiloan atau bendaharanya hehehe. Berasnya dimasak jadi nasi kemudian dimakan, sebagian dibikin MOL, karungnya buat komposter.

Keempat, Sampah coklat kaya kandungan karbon (C) yang merupakan sumber energi makanan untuk mikroba. Sampah hijau mengandung nitrogen (N) yang diperlukan oleh mikroba untuk tumbuh dan berkembang biak. Sampah organik secara alami akan mengalami penguraian oleh ratusan jenis mikroba, enzim, jamur, dan binatang tanah. Proses penguraian memerlukan suhu tertentu, kelembaban, dan oksigen (udara segar).


Manfaat dari membuat KOMPOS :

1. Mengurangi Volume Sampah yang dibuang di TPA
Karena sampah dikomposkan di tempat di mana kompos tersebut diambil, maka dengan sendirinya volume sampah yang diangkut ke TPA akan berkurang. Kami sendiri belum pernah punya kesempatan untuk menghitung berapa volume sampah organik yang disapu oleh petugas kebersihan sekolah setiap pagi dan sore. Tapi yang jelas jumlahnya cukup besar.

2. Menghemat Sumber Daya
Berkurangnya volume sampah yang diangkut ke TPA juga mengakibatkan implikasi lain. Misalnya: berkurangnya armada angkutan yang dibutuhkan, berkurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan, menghemat bahan bakar. Semua ini akan menghemat biaya yang diperlukan untuk pengelolaan sampah. Namun kami belum punya kesempatan untuk menghitungnya. (kami berharap suatu saat nanti punya kesempatan untuk menghitungnya.)

3. Peningkatan Nilai Tambah Sampah
Sampah indentik dengan bahan buangan yang tidak memiliki nilai, kotor, kumuh, dan bau. Memang stigma ini tidak sepenuhnya salah. Namun, dengan membuat sampah organik menjadi kompos akan memberikan nilai tambah bagi sampah. Kompos memiliki nilai dan tidak berbau. Cobalah anda datang ke penjual bunga yang banyak ditemui di pinggir-pingir jalan protokol dan tanya berapa harga sekantong kompos. Itulah nilai kompos. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah siapa yang mau membeli kompos dari sampah tersebut?

4. Menyuburkan Tanah dan Tanaman
Untuk point ini tidak ada yang meragukan manfaat tanah bagi tanah maupun tanaman.

5. Manfaat untuk Lingkungan

Banyak orang yang menuding bahwa salah satu penyebab kerusakan lingkungan adalah karena penanganan sampah yang kurang baik. Mengolah sampah menjadi kompos diharapkan akan membantu menyelamatkan lingkungan.

Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar